Skip to content Skip to menu Skip to search

Berita

Gatra, No. 36 / XIV, 23 Jul 2008

Kiamat Golkar Belum Dekat

Sumber: Gatra, No. 36 / XIV, 23 Jul 2008
24/07/2008 22:01

Partai Golkar diprediksi bakal kesulitan memenuhi target meraih 30% suara pada Pemilu 2009. Kekalahan dalam serangkaian pilkada menjadi tolok ukur. Pimpinan Golkar tetap pede bisa meraup hasil maksimal. Alasannya, karakteristik pemilu legislatif berbeda dari pilkada.

Ibarat klub sepak bola, Partai Golkar adalah klub elite. Meski performanya menurun, ia selalu saja menjadi favorit juara di setiap ajang yang diikuti. Begitu pula Golkar, sekalipun dalam ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) jagoan Golkar kerap rontok, untuk urusan pemilu, partai ini tetap dihitung. Golkar gagal mendudukkan kadernya di kursi Gubernur Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Maluku, Bali, sampai Nusa Tenggara Barat (NTB). Tentu saja ini hasil yang memprihatinkan, mengingat beberapa daerah seperti Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan NTB adalah kandang Golkar.

Berbagai kegagalan itu mendorong munculnya aneka prediksi tentang nasib Golkar dalam Pemilu 2009. ''Golkar akan turun menjadi partai papan tengah,'' kata pengamat politik Denny J.A. kepada Cavin R. Manuputty dari Gatra. Menurut Direktur Lingkaran Survei Indonesia itu, perolehan Golkar dalam pemilu legislatif 2009 hanya akan berada di bawah kisaran 20%. Serentetan kekalahan di ajang pilkada menjadi indikasi mulai turunnya pamor Partai Golkar di mata masyarakat.

Analisis Denny klop dengan hasil survei Indobarometer, lembaga survei politik pimpinan Muhammad Qodari. Indobarometer menemukan, popularitas Golkar menunjukkan tren menurun. Jika pada 2007 masih mencapai 17,8%, pada survei Juni 2008 angka itu merosot menjadi 12%. ''Ini jelas masalah yang sangat serius,'' kata Qodari kepada Gatra.

Tren penurunan pamor Golkar juga terjadi di ajang pilkada. Calon yang diusung Golkar pada awalnya hampir selalu memiliki tingkat popularitas tinggi, tetapi kemudian terus menurun hingga akhirnya kalah. Di Jawa Tengah, misalnya, hasil survei awal menunjukkan popularitas calon Golkar, Bambang Sadono-Muhammad Adnan, berada jauh di atas Bibit Waluyo-Rustriningsih yang diusung PDI-P. Tapi, makin mendekati pilkada, popularitas Bibit-Rustri terus naik dan menyalip Bambang.

Demikian pula di Jawa Barat. Dalam survei awal, pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulandjana (Golkar) sangat diunggulkan. Tapi popularitas itu terus turun dan dalam pemilihan malah terempas ke urutan buncit.

Babak belurnya Golkar dalam beberapa pilkada terakhir ini memang mengindikasikan ada sesuatu yang salah dalam diri partai berlambang pohon beringin itu. Menurut Denny J.A., ada tiga faktor yang menjadi sebab: citra sebagai partai pemerintah, hilangnya ideologi, dan perpecahan internal.

Sebagai partai penyokong pemerintah, Golkar dinilai ikut andil dalam menghasilkan beberapa kebijakan yang dianggap menyengsarakan rakyat. Antara lain soal impor beras dan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan tidak populis itu membuat para pendukung Golkar mulai berpaling. ''Publik tidak suka pada pemerintah,'' kata Denny.

Sementara itu, faktor hilangnya ideologi, yaitu pembangunan, seiring dengan hilangnya figur Pak Harto sang Bapak Pembangunan, mengakibatkan Golkar limbung menentukan jati diri. Kader Golkar pun kehilangan militansi. ''Padahal, ideologi bisa menjadi energi tambahan, sehingga kader mau berkorban demi kepentingan partai,'' ujar Denny.

Contoh kasusnya adalah kemenangan PDI-P di pilkada Jawa Tengah, yang notabene adalah lumbung suara Golkar. Ketika itu, PDI-P mengusung ideologi nasionalisme dan marhaenisme, sedangkan Golkar tak mengusung ideologi apa pun untuk menarik simpati rakyat.

Hilangnya ideologi turut menyumbang terciptanya faktor ketiga, yaitu perpecahan internal. Pada saat pilkada berlangsung di beberapa daerah, banyak calon dari Golkar yang memindahkan dukungan ke partai lain. Di tingkat nasional, tokoh Golkar seperti Wiranto hengkang dan mendirikan Partai Hanura, sedangkan Prabowo Subianto dipinang Gerindra.

Friksi juga makin tampak dari cara Golkar menyikapi hasil-hasil pilkada dengan saling menyalahkan satu sama lain. Pengurus Golkar pada saat ini menuding biang kekalahan Golkar adalah kebijakan Akbar Tandjung, sang mantan Ketua DPP Golkar, di masa lalu. Menurut Ketua DPP Golkar, Syamsul Muarif, kebijakan Akbar untuk memasang ketua Golkar maju sebagai calon pemimpin di level daerah maupun nasional adalah langkah yang salah.

Meski tak tertulis, kader Golkar telanjur menjadikan kata-kata Akbar itu sebagai pegangan. ''Makanya, teman-teman mengambil peluang itu dan ternyata tak benar,'' katanya. Sementara itu, Akbar balik menuding pengurus Golkar pada saat ini hanya mencari kambing hitam atas ketidakmampuan mereka. "Dulu, pada saat saya memegang kepengurusan, Golkar tetap bisa menang, meski sama-sama di bawah tekanan," tutur Akbar.

Fakta adanya perpecahan di internal Golkar ini mengundang keprihatinan tokoh senior Golkar, Oetojo Oesman. Menurut dia, pengurus Golkar pada saat ini telah melupakan pembinaan kader. Kekalahan dalam serangkaian pilkada, kata Oetojo, menjadi cermin lemahnya pembinaan itu, terutama di daerah. ''Pada saat ini, pembinaannya kurang mantap,'' ujar Oetojo kepada Rach Alida Bahaweres dari Gatra.

Kata Oetojo, kini Golkar kurang sistematis, berkelanjutan, dan terarah. Ini berbeda dari Golkar dahulu. Ketika itu, kader Golkar benar-benar dibina hingga ke tingkat desa. Selain itu, dilakukan pembinaan pada kader-kader di kelompok karya, organisasi tani, dan kelompok yang terafiliasi dengan Golkar. ''Ini kekuatan asal Partai Golkar,'' tutur Oetojo Oesman.

Meski begitu, para pengurus Golkar tidak patah hati. Serangkaian kekalahan itu juga belum membuat para pengurus Golkar merasa bahwa kiamat sudah dekat. Sekretaris Pemenangan Pemilu Partai Golkar, Rully Chairul Azwar, tetap optimistis bahwa hasil pilkada tak bakal terbawa pada Pemilu 2009. ''Sebenarnya tidak sama antara memilih partai dan pemilihan kepala daerah yang lebih ke arah memilih figur,'' kata Rully kepada Gatra. Karena itu, menurut dia, pilkada bukanlah ukuran bagi perolehan suara dalam pemilu legislatif. Golkar pun pede mematok target perolehan suara 30% dalam Pemilu 2009.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Jusuf Kalla, meyakinkan bahwa Golkar masih kuat. Buktinya, dari 370 pilkada yang digelar, Golkar memenangkan 42% di tingkat kabupaten dan 25% di tingkat provinsi. Kuatnya Golkar di tingkat kabupaten, menurut Kalla, menjadi tolok ukur penting. Sebab, di era otonomi daerah, peran bupati sangat besar dalam menggerakkan kekuatan politik di tingkat bawah.

Secara keseluruhan, dari rangkaian pilkada yang digelar sejak 2005 hingga 2008, Golkar berada di papan atas, dengan kemenangan di 138 pilkada. Di urutan kedua ada PDI-P dengan 104 pilkada dan ketiga PKS dengan 54 pilkada. Karena itu, Kalla yakin bisa meraih target perolehan 30% suara pada Pemilu 2009.

Persiapan yang dilakukan Golkar untuk menuju ke sana pun tak main-main. Untuk kampanye saja, kata Rully Chairul Azwar, Golkar menyiapkan dana tidak kurang dari Rp 200 milyar. "Itu sudah kami estimasikan untuk pencitraan partai berapa, kampanye berapa, termasuk persiapan logistik. Itu sudah kami perkirakan," ujar Rully. Kampanye pun tak lagi dengan cara lama, semisal konvoi dan orasi. Golkar kini menyiapkan klip video kampanye yang siap tayang di televisi pada jam-jam tayang utama.

Selain itu, Golkar juga menyiapkan kader-kader muda untuk dimajukan sebagai calon anggota legislatif (caleg). Menurut Jusuf Kalla, Golkar akan memberikan kuota 60% buat caleg muda berusia di bawah 40 tahun. Kalangan muda ini akan dikombinasikan dengan generasi senior yang arif dan bijaksana. Kalla yakin, dengan kombinasi tua-muda ini, Golkar tak bakal kesulitan meraup 30% suara pada Pemilu 2009.