Berita
Problem Ekonomi Jadi Faktor Penentu
Sumber: Kompas, 19 April 2008
20/04/2008 10:49Gelombang demokrasi seperti yang ditulis Samuel Huntington sedang terjadi Indonesia. Sebanyak 360 pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota, telah dilaksanakan dalam kurun waktu 2005 hingga April 2008. Gelombang demokrasi akan memuncak pada 5 April 2009 ketika Indonesia menggelar pemilihan umum legislatif.
Pemilu 5 April adalah tahapan yang harus dilalui sebelum Pemilu Presiden 2009. Pemilu 2009 menjadi strategis karena sekaligus merupakan ujian apakah bangsa Indonesia mampu mengonsolidasikan demokrasi. Salah satu hal yang menjadi ukuran apakah demokrasi bisa diterima sebagai sebuah sistem pemerintahan adalah sejauh mana sirkulasi elite bisa dilaksanakan secara damai melalui instrumen demokrasi.
Demokrasi terkonsolidasi apabila ”ia mendapatkan legitimasi yang luas dan kuat dari warga sehingga sangat kecil kemungkinannya ia akan ambruk”. Menurut Prezeworski, ”Demokrasi terkonsolidasi ketika ia menjadi satu-satunya aturan main, dan ketika tak seorang pun dapat membayangkan untuk bertindak di luar sistem demokrasi; ketika kelompok yang mengalami kekalahan menggunakan aturan yang sama untuk membalas kekalahannya....”
Dalam perspektif Prezeworski itulah demokrasi Indonesia akan diuji. Memanasnya suhu politik tahun 1998 ke depan akan mewujud dalam bentuk marketing dan demarketing oleh setiap calon, termasuk terhadap pemerintah yang berkuasa.
Munculnya nama seperti mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan mantan calon presiden Wiranto juga akan menguji apakah mereka yang kalah dalam Pemilu 2004 akan tetap menggunakan jalur demokrasi untuk meraih kekuasaan.
Problem ekonomi
Siapa yang akan tampil sebagai pemimpin pada tahun 2009? Temuan Survei Nasional 2008 Lembaga Survei Indonesia menyebutkan, kepemimpinan nasional 2009 ditentukan oleh bagaimana kondisi ekonomi sekarang hingga Pemilu Presiden 2009.
Saiful Mujani, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, menyebutkan, nasib politik Susilo Bambang Yudhoyono sebagian ditentukan oleh kondisi ekonomi nasional, terutama berkaitan dengan pengendalian bahan pokok. ”Kondisi ekonomi akan menentukan nasib SBY,” kata Saiful di Jakarta, Jumat (18/4).
Jajak Pendapat Litbang Kompas 16-18 April 2008 menunjukkan tingkat kepuasan responden terhadap Yudhoyono di bidang ekonomi, politik, dan kesejahteraan sosial menurun, sedangkan di bidang hukum meningkat. Meskipun demikian, popularitas Yudhoyono sedang dalam tren naik (lihat Kompas, Senin, 21 April 2008).
PT Lingkaran Survei Indonesia dalam jurnal Indonesian Political Review, Maret 2008, menunjukkan terbelahnya persepsi publik terhadap Yudhoyono. Dalam survei Januari 2008, 40,61 persen responden tidak menginginkan kembali Yudhoyono menjadi presiden dan 32,1 persen tetap menginginkan kembali Yudhoyono sebagai presiden.
Dalam analisisnya, Lingkaran Survei Indonesia menulis, meski jumlah responden yang tidak menginginkan Yudhoyono terpilih lagi sebagai presiden lebih besar, tak berarti peluang Yudhoyono kecil. Ada tidaknya calon alternatif akan menentukan.
Calon baru belum muncul. Survei tersegmentasi yang dilakukan Litbang Kompas terhadap pengusaha, aktivis LSM, dan akademisi tak menunjukkan keinginan yang kuat dari kelompok itu untuk menjadi pemimpin bangsa.
Menurut Saiful, ada tiga faktor yang menentukan dalam Pemilu 2009. Pertama, kondisi ekonomi. Kedua, ada tidaknya calon alternatif di luar Yudhoyono dan Megawati. Ketiga, ada tidaknya ”momentum politik”. ”Kalau SBY berhadapan dengan Megawati, SBY masih akan unggul,” kata Saiful.
Fungsionaris PDI-P Budiman Sudjatmiko mengakui hal itu. Atas dasar itu, kata Budiman, dalam pemilu presiden, PDI-P akan menawarkan paket capres/cawapres serta susunan kabinet, termasuk politik anggaran yang akan disampaikan. ”Pluralisme akan jadi jualan,” katanya.
Pengamat politik Sukardi Rinakit melihat gejala ”mencari alternatif” seperti di Jawa Barat bisa terjadi di level nasional, sesuai potret masyarakat Indonesia yang melodramatik. Masyarakat melodramatik tecermin dalam sikap mudah bosan, mudah lupa, dan mudah kasihan. Ia sepakat, isu calon alternatif akan muncul.
Siapa calon alternatif di luar calon yang pernah bertarung? Survei tersegmentasi yang dilakukan Litbang Kompas di kalangan pengurus parpol memunculkan nama Sutiyoso (10 persen), sedangkan secara nasional muncul Sultan Hamengku Buwono X. LSI juga menempatkan Sultan memperoleh 7 persen.
Saiful menyebutkan, jika Yudhoyono gagal mendongkrak pertumbuhan ekonomi, dan jika tercipta ”momentum politik”, Sultan mungkin menjadi figur yang berpotensi menang dalam Pemilu 2009.
Dalam Pemilu 2004, Yudhoyono mendapatkan ”momentum” ketika dikritik secara tajam oleh Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati, dan kemudian mundur dari kabinet.
