Skip to content Skip to menu Skip to search

Berita

Kepuasan SBY Terendah

Sumber: Indo Pos, 5 Oktober 2007
07/10/2007 16:00

Menjelang tiga tahun pemerintahan, tingkat kepuasan publik terhadap SBY-JK merosot ke titik paling rendah. Saat dilantik Oktober 2004, kepuasan publik di atas 80 persen.

Namun, setelah hampir tiga tahun berjalan, tingkat kepuasan terhadap SBY tinggal 35,3 persen atau merosot 45 persen. "Ini tingkat kepuasan (ke) SBY paling rendah dengan waktu sangat cepat," ujar Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny J.A. dalam diskusi publik Peluang Pemimpin Baru pada Pemilu 2009 di Hotel Atlet Century Park Jakarta kemarin.

Hadir sebagai pembahas Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir dan aktivis Malari 1974 Hariman Siregar. "Rendahnya tingkat kepuasan atas kinerja SBY merata di semua segmen," kata Denny.

Pemilih di Jawa paling kecewa (66,9 persen) dibanding luar Jawa (46,6 persen). Dua suku terbesar, Jawa (57 persen) dan Sunda (80,7 persen), juga kecewa. Dari level pendidikan, kalangan bawah lebih kecewa (61 persen) dibanding kalangan terpelajar (54,1 persen).

Pemilih partai, hanya warga Partai Demokrat yang menyatakan puas (59,3 persen) dengan SBY. Pemilih paling kecewa adalah PAN (75 persen) dan PDIP (72,6 persen).

Menurut Denny, ada empat alasan mengapa SBY mengalami defisit kepercayaan publik. Yakni, kekecewaan atas kinerja ekonomi, degradasi program pemberantasan korupsi, publik meragukan kemampuan SBY mengatasi masalah bangsa, serta berjaraknya harapan dan kenyataan.

Soal pemberantasan korupsi, misalnya, awalnya jadi daya tarik utama SBY. Di masa SBY, tercatat rekor terbanyak para pejabat masuk penjara. "Namun, program itu rusak karena 66,1 persen responden menilai pemberantasan korupsi tidak adil karena tebang pilih dan pilih kasih," katanya.

Empat hal tersebut membuat rakyat mulai melakukan mental switch mencari pemimpin baru. Menurut dia, hanya 23,7 persen yang menyatakan akan memilih kembali SBY, sementara 46,4 persen akan memilih calon di luar SBY.

Siapa tokoh baru tersebut? Menurut Denny, di kelas "divisi utama" ada lima nama. Yaitu, tiga alumni Pilpres 2004 (Megawati, Wiranto, Jusuf Kalla) dan dua tokoh pendatang baru (outsiders) yakni Sultan Hamengkubuwono X dan Sutiyoso.

"Di luar divisi utama banyak nama, salah satunya Mas Soetrisno Bachir yang merupakan darah segar, banyak gagasan baru, dan terus meroket. Kalau dalam dua tahun ke depan Mas Tris terus bermanuver, beliau bisa mengejar semuanya," ungkapnya.

Pemimpin baru yang paling berpeluang menang adalah yang punya contrasting tinggi dengan SBY. Mereka adalah yang punya karakter pemimpin kuat (strong leadership). Tiga nama masuk kategori tersebut, yaitu Jusuf Kalla, Wiranto, dan Sutiyoso.

"Dua nama yang paling berpeluang adalah Wiranto dan Sutiyoso karena Jusuf Kalla dari luar Jawa," tegasnya. Survei LSI, tokoh luar Jawa bisa saja jadi presiden. "Tapi, faktor itu sangat mudah dimainkan lawan sebagai senjata kampanye mematikan calon," katanya.