Berita
Surya, 24 April 2007
SBY Mereaksi Kritik
Sumber: Surya, 24 April 2007
30/04/2007 10:37Ternyata Presiden SBY gerah juga dikritik sebagai pemimpin peragu dan penakut. Tak ingin imej itu menjadi isu liar, apalagi survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut kepercayaan publik terhadap SBY-JK semakin anjlok, Presiden pun memberi penjelasan. "Saya disuarakan sebagai presiden penakut, ragu-ragu, tidak tegas. Saya ingin menjelaskan. Memang saya takut, takut kepada Allah SWT. Saya takut mengambil keputusan yang melanggar larangan Allah, yang tidak adil dan hanya untuk kepentingan kelompok, apalagi untuk kepentingan saya sendiri," kata SBY di hadapan sekitar 1.000 jamaah Majelis Ta'lim Al Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi, Islamic Center Indonesia, Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (22/4) pagi.
Sebelumnya, Presiden SBY didoakan oleh Habib Al-Habsyi agar tegar dan kuat menjalankan pemerintahan. Presiden mengaku kunjungan ke Majelis Taklim itu yang kelima. Pertama dan kedua, saat ia masih aktif sebagai TNI. Ketiga, saat ia menjadi Menko Polkam. Yang keempat saat ia mencalonkan sebagai presiden, 2004.
Presiden mengatakan, ketakutan juga ia alami ketika masalah yang dihadapi bersinggungan dengan ketentuan hukum. "Tidak boleh seorang pemimpin mempermainkan konstitusi dan ketentuan agar bisa dikatakan berani melakukan sesuatu. Saya adalah bagian dari negara. Meskipun saya pemimpin negara, saya tunduk pada konstitusi, undang-undang, apalagi pada hukum Allah," paparnya.
Lebih lanjut SBY mengaku, ketakutan dirinya juga menerpa ketika bersinggungan dengan ketebelece alias uang pelicin yang telah bertahun-tahun menggurita dalam birokrasi Indonesia. Sebaliknya, ketika menghadapi kasus korupsi, SBY menegaskan tak takut. "Saya tidak pernah takut menindak korutor, menghadapi perlawanan yang luar biasa dalam pemberantasan korupsi. Jadi, tidak ada yang bisa berlindung dari tangan hukum. Kalau betul-betul terlibat korupsi, tidak ada keraguan dan ketakutan saya," jelasnya.
"Siapapun koruptor itu, apakah ia berada di jajaran pemerintahan, jika dinyatakan bersalah secara hukum harus ditindak," sambungnya.
SBY menyodorkan bukti keberaniannya itu ketika memutuskan melunasi utang IMF. "Saya tidak takut melunasi utang IMF. Harus kita hentikan kerjasama yang tidak menguntungkan dan tidak adil," katanya.
Begitu pula ketika harus mengubah anggaran untuk pendidikan, kesehatan dan mengurangi kemiskinan. "Ini saya sampaikan, dan tidak lagi menjadi manipulasi sehingga saling memfitnah," ungkapnya.
Kalaupun ketakutan dan keberanian itu terkesan timbul tenggelam, menurut SBY hal itu semata-mata agar pengambilan keputusan tidak dilakukan secara emosional dan grusa-grusu. "Kalau salah, dampaknya bagi rakyat akan tidak baik," katanya.
Coba Bangun Citra Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Danny JA menilai yang dilakukan SBY dengan turun ke acara pengajian sekaligus menegaskan bukan sebagai pemimpin peragu, hanyalah upaya untuk membangun citra.
Padahal, kata Denny, yang dibutuhkan rakyat adalah aksi nyata dalam memperbaiki performa pemerintahan. "Ini upaya pembentukan re-image dari Presiden," terang Danny kepada Surya, Minggu.
"Presiden mencoba menjawab dirinya adalah presiden yang punya kemampuan memimpin yang kuat, strong leader. Karena masyarakat sudah mulai pesimis," sambungnya.
Danny mangatakan, secara politik, citra SBY memang penakut dan ragu-ragu. Terlebih banyaknya jajak pendapat menyebut popularitasnya menurun, termasuk polling LSI dan media seperti Kompas. Namun menurut Danny, SBY seharusnya menjawab dengan tindakan nyata, misalnya dia memang serius memberantas korupsi.
Namun SBY harus ingat, masalahnya tidak hanya pemberantasan korupsi, masih banyak hal termasuk masalah kemiskinan, pengangguran, serta pembuatan kebijakan yang lebih berpihak kepada publik. "Jadi harus action dalam segala hal. Termasuk dalam masalah reshuffle (perombakan) kabinet yang sepertinya dia juga ragu," kata Danny.
Khusus untuk perombakan kabinet, Danny menyoroti sejauh mana keberanian SBY terhadap dugaan korupsi di lingkaran terdekatnya, seperti keterkaitan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin dan Menteri Sekretaris Negara Yuzril Ihza Mahendra yang diduga melanggar hukum terkait pencairan uang Tommy Soeharto.
"Kalaupun Hamid dan Yuzril tidak di-reshuffle ya tidak apa-apa, namun SBY harus berani mengusut tuntas kasus pencairan uang Tommy itu," ucapnya.
Sebelumnya, pengamat politik LIPI Indria Samego menilai tipikal SBY sebagai pemimpin peragu. Tak heran, saat menjadi tentara, SBY tidak pernah menjabat pangdam di daerah yang strategis. "Memang pernah (menjadi pangdam), tapi di kawasan Sumatera. Termasuk, tidak menjadi KSAD. Secara pribadi, dia memiliki kapasitas kepemimpinan yang seperti itu," ujarnya saat berada di Magelang awal April lalu.
Dikatakan Indria, beberapa jabatan tentara yang diemban SBY kebanyakan berada pada ranah politik. Kendati demikian, Indria menilai ada juga faktor eksternal yang mempengaruhi kepemimpinan SBY. Meski dipilih langsung oleh rakyat, dalam politik keseharian dia harus bermitra dengan DPR.
"Sehingga harus menghitung, bagaimana memperjuangkan program pemerintah di dewan. Itu artinya dia harus bisa bekerja sama dengan dewan. Itu yang mengganggu, karena dewan lebih kuat," terangnya. Ini bisa dimaklumi, SBY lahir dari Partai Demokrat yang kecil suaranya di DPR. Menurut Indria, pola kepemimpinan SBY itu akan berdampak langsung terhadap pemilu 2009 mendatang. Rakyat bakal berhitung akan memilih SBY lagi atau memilih figur lain.
Secara terpisah, pengamat politik LIPI Hermawan Sulistyo mengatakan, menjadi sesuatu yang percuma bagi SBY jika dirinya hanya menjawab keraguan publik dengan hanya berwacana. SBY seharusnya segera melakukan tindakan nyata.
"Dia mengatakan tidak takut dan bukan peragu kan dalam konteks perombakan kabinet. Masalahnya, kapan itu dilakukan," terang pengamat yang biasa disapa Kiki itu, Minggu (22/4). Khusus untuk perombakan kabinet, kata Kiki, SBY kini diuji keberanian dan ketidakraguannya untuk mencopot menteri-menteri yang dituntut publik untuk turun.
Membangun Watak Dalam acara pengajian kemarin, Presiden SBY juga memaparkan soal pembentukan watak bangsa. "Ada tiga hal ingin saya sampaikan. Pertama, bagaimana membangun watak dan kepribadian tangguh.
Kedua, bagaimana membangun watak bangsa ini mampu berpikir sehat, rasional dan berilmu. Ketiga, watak yang kita tuju adalah bagaimana bangsa ini benar-benar bersatu menuju hari esok lebih baik," kata SBY yang kemarin didampingi Ny Ani Yudhoyono dan Wagub DKI Jakarta yang juga Calon Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Dikatakan, bangsa ini tak akan berubah kalau masyarakatnya tidak bekerja keras mengubahnya demi masa depan. Untuk itu, SBY berharap ada introspeksi diri dalam kehidupan sehari-hari. Presiden juga meminta bimbingan dan masukan dari para ulama untuk seluruh pemimpin dan pejabat bangsa agar dapat menjalankan tugas sesuai amanah masyarakat.
Terkait banyaknya musibah belakangan ini, Presiden berpesan agar umat Islam hanya melakukan pendekatan rasional dalam menanggapi persoalan itu. "Warga Islam jangan menilai kejadian dan musibah itu dari sisi mistik, takhayul, syirik, tetapi dari dimensi keilmuan dan keagamaan serta ke Islaman," ujarnya dalam acara yang tak dihadiri menteri itu.
