Konferensi Pers
Mayoritas Publik Sedang Kecewa
18 Bulan Pemerintahan SBY
Analisis Survei Nasional
Sumber: Jakarta, 16 Mei 2006
17/05/2006 11:17Setelah 18 bulan memerintah, pemerintahan SBY menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. Penyebabnya, mayoritas publik sedang kecewa dengan kondisi ekonomi. Mereka mudah sekali marah, bereaksi, dan protes. Di era seperti ini sulit sekali bagi pemerintahan SBY untuk mengambil kebijakan yang kontroversial seperti pemaafan Suharto, ataupun yang tidak populis seperti kenaikan tarif dasar listrik dan revisi UU Tenaga Kerja yang radikal. Mayoritas publik yang sedang kecewa mudah sekali tersulut dan mendukung oposisi. Ini salah satu data dan analisa dari survei nasional Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Survei ini diadakan pada tanggal 24-27 april 2006, di seluruh propinsi dengan 700 responden. Metode yang digunakan multistage-random sampling, mengambil responden dari desa dan kota secara proporsional, dan wawancara tatap muka. Data sampel ini dapat mewakili suara 150 juta pemilih Indonesia dari Aceh sampai Papua, dengan margin of error sekitar 3.8%.
Ada jarak yang lebar antara perbaikan beberapa indikator ekonomi makro saat ini (menguatnya rupiah, melesatnya indeks saham gabungan) dengan persepsi kesulitan ekonomi masyarakat Publik merasa ekonominya bertambah sulit. Ketika team ekonomi belum diganti (Agustus 2005), 47.7% tidak puas dengan kinerja pemerintah menangani ekonomi (44.7% puas). Kini, setelah team ekonomi diganti, ketidak puasan justru meningkat ke 77.2% (23% puas). Jurang masih menganga di antara makro ekonomi yang mulai membaik dengan mikro ekonomi yang masih bermasalah. Beberapa indikator ekonomi makro itu memang belum meresap ke lapisan bawah dan menengah masyarakat. Di kalangan itu justru kian hari kian merasakan beban hidup tambahan akibat naiknya BBM tempo hari dan rendahnya daya serap tenaga kerja Lebih spesifik lagi, 73.9% kurang puas dengan kinerja pemerintah dalam hal mengurangi pengangguran. Dan 70,4% kurang puas dengan kinerja pemerintah dalam hal meningkatkan penghasilan
Lebih banyak pemilih (49.4%) yang mengatakan kondisi ekonomi nasional saat ini lebih buruk dibandingkan setahun lalu (24% mengatakan tak ada perubahan, 17% mengatakan kondisi ekonomi lebih baik) Namun mayoritas puas dengan kinerja SBY di bidang penanganan korupsi dan Aceh. Untuk dua hal ini, mayoritas mengatakan prestasi SBY lebih baik daripada presiden sebelumnya, mulai dari Suharto sampai Megawati Persoalannya, bagi publik, masalah ekonomi jauh lebih penting (62%), dan publik merasa ekonominya bertambah sulit Kepuasan atas kinerja SBY merosot sangat drastis sekali. Yang puas dengan kinerja 18 bulan SBY hanya 37.9%. Ini adalah tingkat kepuasan terendah SBY selama 18 bulan. Dibandingkan dengan puncak popularitas SBY, November 2004, tingkat kepuasan merosot 41% (dari 79.7% ke 37.9%) dalam tempo 18 bulan!
Ketidak puasan yang meluas ini adalah lahan yang subur bagi tumbuhnya aksi protes. Harus ada langkah ekonomi terobosan dari SBY agar ketidak puasan itu tidak terus melebar dan menjadi sumber tumbuhnya aksi protes berskala besar. Jika tidak ditangani secara cepat, ketidak puasan yang meluas ini akan mencari juru bicara di tingkat nasional. Karena DPR dianggap tidak lagi memainkan fungsi kontrol secara maksimal, para politisi senior mendapatkan “panggung” kembali, seperti Amien Rais, Megawati dan Wiranto. Kompetisi politik babak kedua ini akan terus bergulir sampai pemilu presiden 2009.
Download File ini SURVEI_NASIONAL_MEI_1.ppt
