Berita
Wacana Pilpres Satu Putaran Teror Politik
Sumber: Suara Karya Jum’at 12 Juni 2009
22/06/2009 10:36Penggiringan opini publik bahwa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 berjalan satu putaran merupakan terror politik yang harus dilawan.
Desakan agar pilpres berlangsung satu putaran juga mengingkari realitas politik bahwa peluang tiga pasangan capres-cawapres untuk memenagi pilpres sama-sama besar.
Demikian pendapat pengamat politik yang juga mantan Rektor Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta Ryaas Rasyid, Penanggung Jawab Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik Indonesia (PKSPSPI) Iberamsjah, dan Juru Bicara Tim Sukses JK-Wiranto Drajad Wibowo dalam kesempatan terpisah, di Jakarta.
Mereka dimintai komentar terkait hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang di publikasikan di Jakarta, Kamis. Survei tersebut mempredikasi bahwa Pilpres 2009 berlangsung satu putaran. Itu karena hasil survei menunjukkan perolehan suara pasangan SBY-Boediono mencapai 63,1 persen, Mega-Pro 16,4 persen, dan JK-Wiranto 5,9 persen.
Hasil survei yang ditandatangani Direktur Eksekutif LSI Denny JA itu menyebutkan, perkiraan pilpres satu putaran juga berpijak pada hasil survei terhadap 4,000 responden di tujuh provinsi di Indonesia pada 28 Mei-3 Juni 2009.
Staff khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Denny Indrayana, juga mengusulkan agar pilpres cukup satu putaran saja untuk menghemat dana pemilu.
Ryaas Rasyid menilai, penggalangan opini publik bahwa Pilpres 2009 berlangsung satu putaran merupakan terror politik yang mencederai praktik demokrasi. “Itu harus kita lawan. Mereka berusaha memaksakan keinginan melalui hasil survei,” tuturnya.
Ryaas mengingatkan, elektabilitas masing-masing pasangan capres-cawapres tidak jauh berbeda. Lalu mendekati pelaksanaan pilpres juga terjadi dinamika elektabilitas yang tinggi. “Misalnya, peluang Pak JK dan Pak Wiranto (memenangi pilpres) menurut berbagai survei independen semakin tinggi. Begitu juga pasangan Megawati dan Prabowo. Sementara elektabilitas SBY-Boediono malah turun. Jadi, ini dinamika yang terus terjadi,” ujarnya.
Untuk itulah, menurut Ryaas, soal pilpres berlangsung satu atau dua putaran, adalah hak penuh rakyat pemilih.
Sementara itu, Iberamsjah mengaku yakin bahwa Pilpres 2009 tidak akan berjalan satu putaran. Dia beralasan, kekuatan basis massa masing-masing capres-cawapres relatif sama.
